Get Adobe Flash player
Pondok Pesantren Mansyaul Huda 02 adalah Pondok Pesantren yang terletak di Desa Jatisari Kecamatan Senori Kabupaten Tuban tepatnya di tengah kota Kecamatan Senori. PP. Mansyaul Huda 02 atau sebutan ringkasnya PPMH 02 merupakan satu keluarga dari PP. Mansyaul Huda 01 (PPMH 01) yang mana PPMH 01 khusus untuk santri putra, sedangkan PPMH 02 terdiri dari santri Putra dan Putri segala umur, dari jenjang pendidikan MI/dasar sampai Perguruan Tinggi.
Dari tahun berdirinya, PPMH 02 ini termasuk pondok pesantren baru yang mempunyai jumlah santri yang cukup banyak dan mengalami perkembangan yang pesat. PPMH 02 baru berdiri tahun 1996 atas prakarsa Beliau Romo KH. M. Muhyiddin Munawwar (Putra dari beliau Romo KH. MUNAWWAR, pendiri PPMH 01), jauh dari PPMH 01 yang sudah berdiri tahun 1927. Continue reading

Pondok Pesantren Mansyaul Huda Sendang Senori Tuban didirikan pada tahun 1927 sebagai wujud kepedulian pendiri, yaitu Hadlrotus Syaikh KH. Munawwar terhadap moral dan wawasan intelektual serta keahlian generasi muda menjadi manusia yang bertaqwa, berilmu dan berakhlaqul karimah.

Saat ini Pondok Pesantren Mansyaul Huda Sendang Senori Tuban, memiliki fasilitas gedung sebanyak lima unit; Asrama DARUL FALAH berlantai dua, Asrama DARUS SALAM berlantai satu, Asrama DARUT TAUHID Berlantai satu, Sebuah Musholla dan Komplek baru tiga lantai, lantai bawah sebagai AULA serbaguna. Continue reading

Kepribadian Imam Jalaluddin As-Suyuthi dengan berbagai aspeknya, tanpa diragukan lagi adalah kepribadian yang unik yang pantas diteliti dan dipelajari. Beliau banyak memperdalam ilmu-ilmu agama dan bahasa, mengarang buku-buku kesusastraan, juga menaruh perhatian besar terhadap sejarah, politik dan sosial.
Beliau dipandang sebagai salah seorang sastrawan paling terkenal pada abad kelima belas. Dengan penanya, beliau menggeluti segala bidang ilmu. Beliau menulis tentang Al-Qur’an, al-Hadits, Fiqh, Sejarah, bahasa, Balaghah, Kesusastraan dan lain sebagainya.

Beliau juga sangat cinta pada ilmu. Beliau berpindah-pindah dari satu pusat pendidikan ke pusat pendidikan lainnya. Sumber-sumber sejarah menuturkan bahwa beliau telah belajar kepada enam ratus Syaikh (guru) pada zamannya di berbagai negara. Continue reading

Nama lengkapnya adalah Syeikh al-Alamah Muhammad Jamaluddin ibnu Abdillah ibnu Malik al-Thay, lahir di Jayyan. Daerah ini sebuah kota kecil di bawah kekuasaan Andalusia (Spanyol). Pada saat itu, penduduk negeri ini sangat cinta kepada ilmu, dan mereka berpacu dalam menempuh pendidikan, bahkan berpacu pula dalam karang-mengarang buku-buku ilmiah. Pada masa kecil, Ibn Malik menuntut ilmu di daerahnya, terutama belajar pada Syaikh Al-Syalaubini (w. 645 H).

Setelah menginjak dewasa, ia berangkat ke Timur untuk menunaikan ibadah haji, dan diteruskan menempuh ilmu di Damaskus. Di sana, ia belajar ilmu dari beberapa ulama setempat, antara lain Al-Sakhawi (w. 643 H). Dari sana berangkat lagi ke Aleppo, dan belajar ilmu kepada Syaikh Ibn Ya’isy al-Halaby (w. 643 H).

Di kawasan dua kota ini nama Ibn Malik mulai dikenal dan dikagumi oleh para ilmuan, karena cerdas dan pemikirannya jernih. Ia banyak menampilkan teori-teori nahwiyah yang menggambarkan teori-teori mazhab Andalusia, yang jarang diketahui oleh orang-orang Syiria waktu itu. Teori nahwiyah semacam ini, banyak diikuti oleh murid-muridnya, seperti imam al-Nawawi, Ibn al-Athar, al-Mizzi, al-Dzahabi, al-Shairafi, dan Qadli al-Qudlat Ibn Jama’ah. Untuk menguatkan teorinya, sarjana besar kelahiran Eropa ini, senantiasa mengambil saksi (syahid) dari teks-teks al-Quran. Continue reading

Imam Al Ghazali, sebuah nama yang tidak asing di telinga kaum muslimin. Tokoh terkemuka dalam kancah filsafat dan tasawuf. Memiliki pengaruh dan pemikiran yang telah menyebar ke seantero dunia Islam. Ironisnya sejarah dan perjalanan hidupnya masih terasa asing. Kebanyakan kaum muslimin belum mengerti. Berikut adalah sebagian sisi kehidupannya. Sehingga setiap kaum muslimin yang mengikutinya, hendaknya mengambil hikmah dari sejarah hidup beliau.

Nama, Nasab dan Kelahiran Beliau

Beliau bernama Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Ath Thusi, Abu Hamid Al Ghazali (Lihat Adz Dzahabi, Siyar A’lam Nubala’ 19/323 dan As Subki, Thabaqat Asy Syafi’iyah 6/191). Para ulama nasab berselisih dalam penyandaran nama Imam Al Ghazali. Sebagian mengatakan, bahwa penyandaran nama beliau kepada daerah Ghazalah di Thusi, tempat kelahiran beliau. Ini dikuatkan oleh Al Fayumi dalam Al Mishbah Al Munir. Penisbatan pendapat ini kepada salah seorang keturunan Al Ghazali. Yaitu Majdudin Muhammad bin Muhammad bin Muhyiddin Muhamad bin Abi Thahir Syarwan Syah bin Abul Fadhl bin Ubaidillah anaknya Situ Al Mana bintu Abu Hamid Al Ghazali yang mengatakan, bahwa telah salah orang yang menyandarkan nama kakek kami tersebut dengan ditasydid (Al Ghazzali). Continue reading